Sabtu, 14 Juni 2008

Peduli Anak Cacat







Peduli Anak Cacat
PARA siswa penyandang cacat di Sumsel bolehlah bergembira dan berbangga hati. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melalui Undang Undang No 4 Tahun 1997 dan Perda No 43 Tahun 1998 tentang upaya Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat merelasisakannya dengan meresmikan kawasan megah YPAC, Sabtu (5/5/2007) lalu. Kemegahan kawasan yang terletak di Jl Mr Sudarman No 2727 Kel Sukamaju Kenten Palembang bak real estate ini akan dinikmati oleh para siswa penyandang cacat.
Kompleks bangunan yang mampu menampung 1000 anak cacat ini konon yang terbesar dan terlengkap di Indonesia saat ini. Gedung mewah ini dibangun oleh PT Istana Kenten Indah, sementara fasilitas pendukung lainnya seperti rumah-rumah dinas pengelola dibantu oleh beberapa donatur. Dari dana APBD sendiri digelontorkan bantuan berupa 20 unit komputer, alat-alat psioterapi dan lain-lain.
Dalam sambutan peresmiannya, Gubernur Sumsel Syahrial Oesman mengatakan lokasi YPAC ini bukan cuma menampung anak‑anak yang berdomisili di Palembang saja tapi juga merupakan tempat rujukan bagi anak‑anak penyandang cacat yang tinggal di daerah‑daerah.
“Siswa YPAC ini haknya sama dengan murid normal lainnya. Soal bagaimana masa depan mereka nanti kalau prasarananya sudah cukup, mereka bisa berusaha, mereka kan masing‑masing punya keahlian. Mereka bisa hidup mandiri tetapi sebatas kemampuan," ujar Syahrial.
Jika sarana dan prasarana sudah lengkap, pemerintah Provinsi Sumsel akan ikut mendukung terlaksanamya sistem pengajaran di YPAC. Pembangunannya tidak hanya terpusat di Palembang saja, tetapi juga ke seluruh kabupaten/kota di Sumsel.
“Nanti di setiap daerah kita minta bantuannya untuk menyiapkan sarana dan prasarana pendukung. Ini merupakan salah satu bentuk kepedulian dan pelayanan kita kepada anak-anak penyandang cacat,” kata Syahrial.

Mengacu Depdiknas
Ditemui setelah peresmian, Ketua Umum YPAC Palembang, Otty Teddy S Dharma menyampaikan, pada Tahun Ajaran 2007, total siswa YPAC 270 orang, sementara staf dan karyawan 80 orang. Sebagian tenaga pendidik ada yang ditugaskan langsung dari pemerintah, selebihnya berasal kalangan umum.
Menurutnya, misi utama YPAC adalah mengutamakan pelayanan lebih. Sementara kurikulum pengajaran mengacu pada sistem kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, materinya Sekolah Luar Biasa (SLB).
"Kita tidak ada target soal daya tampung. Bayangkan, bayaran sekolah cuma Rp 20 ribu, itu pun banyak yang ngutang. Kita akan lengkapi fasilitas yang belum ada. Saat ini memang belum ada asrama, kita fokuskan pada pelayanannya dulu,” ujar Otty.
Salah seorang orangtua didik YPAC, Kristina menyatakan banyak sekali perkembangan yang dialami putrinya sejak bersekolah di YPAC. Bisa bersosialisasi, memiliki banyak kawan, dapat menulis serta membaca buku. "Di sini kan ada psioterapinya. Saya cukup banggalah dengan YPAC ini. Dari yang dulunya putri saya nggak bisa sama sekali ngomong kini sudah dapat beraudiensi," kata Kristina yang mengaku setiap hari mulai pukul 07.00 ‑ 09.30 waktunya dihabiskan untuk menjaga putrinya di YPAC.
Partin, guru SLB D1 Tuna Daksa mengatakan selain mata pelajaran dari Diknas, sistem pengajaran juga dititikberatkan pada pembinaan jati diri anak terutama dalam kegiatan sehari‑hari. "Kelasnya sama seperti kelas normal. Ada tingkatan TK, kelas 1, 2 sampai kelas 6 SD. Tiap kelas maksimal duabelas murid. Jadi kita perlu perhatian ekstra,"ungkap Partin.
Perasaan bahagia atas diresmikannya YPAC terlontar dari mulut Syarif Hidayat, salah seorang siswa YPAC. Meski baru kelas 4, namun Syarif sepertinya ingin menggapai impian sama seperti anak normal lainnya.
"Syarif mau jadi seniman. Kalau pelajaran yang disukai menggambar pemandangan gunung,"katanya.
Saat acara peresmian berlangsung, terlihat sekitar 260 siswa YPAC ikut menyemarakkan suasana. Mereka ikut baca puisi, menari, bernyanyi sampai break dance. (*)

Tidak ada komentar: